kembali ke daftar Artikel

AKHIR PILKADA YANG MANIS


Selasa, 25 April 2017, 15:40 | 167 views
Artikel oleh : Barza Hasan
ilustrasi / foto DOK.INTV
JAKARTA : Kompetisi pilkada sudah begitu panas sejak awal. Ketegangan juga terjadi mulai dari masyarakat bawah hingga tokoh-tokoh politik. Berapa harga menjadi pemenang pilkada dibandingkan dengan keutuhan NKRI ? Inilah akhir pilkada yang manis, dimana para calon pemilih yang mencoblos terlihat bijak dan cerdas sesuai hati nurani mereka, bukan karena ditunggangi atau demi kepentingan perut maupun gengsi.
Perjalanan proses demokratisasi di Indonesia, memberikan pelajaran yang sangat berharga bagi kita semua, karena dalam membangun demokrasi tidaklah semudah membalikan telapak tangan. Membangun demokrasi membutuhkan banyak perangkat yang semuanya tidak datang begitu saja. Demokrasi harus dijalani dengan proses yang berbelit dan tidak ada jaminan akan keberhasilan dan kesuksesannya. Membangun demokrasi yang diharapkan membawa kesejahteraan masyarakat, tidak akan dicapai bila hanya melakukan perubahan sistem ataupun aturan prosedural belaka, namun juga menyangkut budaya dari elit politik maupun masyarakat secara keseluruhan. 
Kini bangsa Indonesia khususnya warga DKI Jakarta telah melaksanakan pilkada langsung. Mau tidak mau pilkada langsung merupakan tuntutan yang harus dilaksanakan, demi pembelajaran demokrasi, sehingga sangat wajar jika pilkada langsung ini memunculkan beragam persoalan dan menebar ancaman.
Pelaksanaan pilkada langsung jelas bukan persoalan sepele, karena berbagai kepentingan yang terlibat di dalamnya jauh lebih pelik dibandingkan dengan pemilu Presiden dan Wakil Presiden. Unsur fanatisme memang jauh lebih kental dan amat ironis, ketika demokrasi yang seharusnya mengutamakan akal sehat, justru yang terjadi adalah sikap fanatisme penuh emosi. Situasi tersebut juga diperparah dengan adanya berbagai manuver dan kepentingan-kepentingan dari luar, baik kepentingan politik atau kepentingan ekonomi.
Pilkada langsung merupakan moment penting bagi siapapun. Kepentingan para elit partai, pemilik modal, birokrat dan pemerintah, campur aduk menjadi satu untuk menjadi pemenang. Kepentingan elit partai juga terlihat, ketika seorang calon harus berangkat dari gerbong partai. Disini terlihat bahwa partai politik tidak mau kehilangan kekuasaannya, semua elemen juga tidak mau kehilangan momentum pilkada langsung, sehingga bisa jadi pilkada langsung yang sebenarnya adalah pesta demokrasi yang dimiliki oleh rakyat, akan dibajak oleh elit politik maupun pemilik modal. 
Pilkada DKI Jakarta sudah dilaksanakan, berbagai cara dan jalan telah diusung agar dapat merangkul partisipan masyarakat umum. Namun yang perlu menjadi catatan adalah, terkait kompetisi antar elit politik (calon Gubernur) yang ditengarai cenderung mengabaikan etika dan estetika politik, sehingga bermuara pada menipisnya moralitas dan kesantunan, yang kemudian melahirkan kegamangan, kebingungan hingga apatisme politik. 
Kedamaian itu diharapkan dapat menapaki roh demokrasi sebagai penentu nasib warga Jakarta ke depan. Optimisme lahirnya pemimpin dan kepemimpinan yang kemudian dihadapkan pada kedewasaan berpolitik, menjadi keharusan dalam menghadapi realitas politik yang diwarnai kompetisi di tengah konstelasi politik. Pilkada secara damai adalah alternatif untuk menyelamatkan demokrasi melalui proses-proses yang normal. Sementara kampanye merupakan awal langkah untuk mencari pemimpin yang berbobot, memiliki integritas dan komitmen moral. Dalam konteks inilah, etika politik para calon Gubernur harus bertanggung jawab menyelamatkan kedamaian dan kebersamaan dengan mempertebal etika dan moralitas berpolitik.
Besar harapan warga Jakarta kepada Gubernur terpilih, walaupun mereka tidak pernah melihat anda  secara langsung, namun harapan itu selalu tercurah, sebagai bentuk demokrasi yang harus diperjuangkan oleh kita semua. Warga Jakarta hanya ingin bahagia agar tidak terlilit masalah bangsa yang itu-itu saja. Warga Jakarta juga memiliki harapan, mimpi, dan cita-cita yang bisa diwujudkan untuk kemajuan bersama.
Semoga saja Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta terpilih, merupakan sosok yang memberikan perdamaian, menjaga kerukunan serta penebar kebaikan bersama di negeri ini, khususnya di DKI Jakarta.
Barza Hasan//Rio Handoko//INTV Jakarta 
COPYRIGHT INTV @2017